
Nganjuk – Pekikan “Hidup Buruh!” dan “Marsinah Tidak Mati!” bergemuruh di tengah terik matahari saat ribuan buruh dari berbagai elemen berkumpul dalam sebuah aksi solidaritas yang sarat emosi. Namun, aksi kali ini mencatat sejarah baru. Perjuangan buruh yang terinspirasi oleh sang pahlawan buruh, Marsinah, mendapat atensi tertinggi dari kepala negara.
Presiden Prabowo Subianto secara resmi meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah Buruh, sebuah monumen penghormatan atas keberanian dan pengorbanan buruh perempuan asal Sidoarjo yang tewas memperjuangkan hak-hak dasar pekerja pada tahun 1993 silam.

Orasi Buruh: “Kita adalah Anak-Anak Marsinah”
Sebelum peresmian berlangsung, seorang orator buruh dengan berapi-api membakar semangat massa yang membawa spanduk-spanduk tuntutan. Dalam orasinya, ia mengingatkan kembali tragedi kelam 33 tahun lalu di mana Marsinah diculik, disiksa, dan dibunuh secara keji hanya karena menuntut upah sesuai UMR.
”Mereka kira dengan membunuh Marsinah, suara buruh akan mati. Salah besar! Marsinah memang mati secara fisik, tapi ide dan keberaniannya hari ini mengalir di nadi kita semua. Kita adalah bukti bahwa penindasan tidak pernah bisa membunuh semangat perlawanan!” pekik orator tersebut disambut riuh tepuk tangan massa.
Dalam aksi ini, para buruh membawa empat tuntutan utama yang dinilai masih relevan dengan kondisi hari ini:
Upah layak, bukan upah murah.
Penghapusan sistem outsourcing dan kerja kontrak seumur hidup.
Penghentian kriminalisasi terhadap buruh yang berserikat.
Usut tuntas seluruh kasus pelanggaran HAM buruh, dari era Marsinah hingga hari ini.

Presiden Prabowo: Jangan Ada Aparat yang Menjadi Backing Penyelewengan
Menanggapi aspirasi dan sejarah kelam tersebut, Presiden Prabowo Subianto dalam pidato peresmiannya menyampaikan rasa prihatin yang mendalam. Ia menyoroti bagaimana pada masa lalu, seorang pemimpin buruh harus meregang nyawa akibat kekejaman pengusaha yang serakah demi meraup keuntungan sebesar-besarnya.
Presiden menegaskan bahwa paradigma lama tersebut harus dirombak total demi mewujudkan Indonesia sebagai negara kekeluargaan, di mana seluruh rakyat berhak menikmati kekayaan negeri secara adil.
”Seluruh aparat harus terus memperbaiki diri dan koreksi. Jangan justru aparat yang menjadi backing penyelewengan!” tegas Presiden Prabowo dalam penggalan pidatonya yang disambut gemuruh para hadirin.
Lebih lanjut, Kepala Negara mengutuk keras budaya kolusi antara oknum aparat dan para kapitalis hitam yang kerap mengorbankan hak-hak rakyat kecil. Menurutnya, praktik semacam itu tidak boleh lagi memiliki tempat di bumi Indonesia.
”Budaya kolusi aparat yang dipakai oleh para kapitalis tidak boleh terjadi lagi. Hukum, keadilan, dan kebenaran harus ditegakkan,” tambah Presiden.

Simbol Penghormatan Pahlawan Buruh
Tepat pukul 10.00 WIB, dengan mengucap kalimat Bismillahirrahmanirrahim, Presiden Prabowo secara resmi menandandatangani prasasti peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah.
Fasilitas ini diharapkan tidak hanya menjadi tempat merawat ingatan kolektif bangsa terhadap perjuangan Marsinah, tetapi juga berfungsi nyata sebagai rumah singgah dan pusat advokasi bagi buruh yang sedang memperjuangkan hak-haknya. Peresmian ini menandai babak baru komitmen pemerintah dalam melindungi hak pekerja dan memastikan bahwa sejarah kelam masa lalu tidak akan pernah terulang kembali.
– betz11