LODAYA 40A – Pimpinan Daerah Federasi Serikat Pekerja Kimia, Energi, dan Pertambangan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PD FSP KEP SPSI) Provinsi Jawa Barat menggelar rapat penting yang berfokus pada percepatan transformasi digital organisasi berbasis aplikasi. Pertemuan ini menyatukan para pimpinan kunci untuk menyusun peta jalan (roadmap) konkret dalam mengadopsi teknologi guna meningkatkan efisiensi administrasi, komunikasi, dan kesejahteraan anggota.

Dalam arahannya, Bapak Jaka dari yayasan Pakuan Padjajaran Anyar menekankan pentingnya memanfaatkan media sosial sebagai alat propaganda organisasi yang efektif serta untuk mendokumentasikan jejak digital kegiatan. Ia mengilustrasikan perubahan zaman, “Dulu situs itu ditulis di batu, sekarang di website,” seraya menyoroti potensi ekonomi digital, seperti konsep e-commerce (membuka toko tanpa harus punya toko). Visi utamanya adalah membangun sistem basis data keanggotaan menggunakan teknologi barcode yang terverifikasi melalui aplikasi, serta memupuk hubungan emosional yang baik antar perangkat organisasi.

Menindaklanjuti hal tersebut, Agus Koswara mengusulkan pembuatan satu aplikasi terpadu yang mencakup semua kebutuhan organisasi. Ia menekankan perlunya pemetaan teknis yang jelas dan tindak lanjut kemitraan dengan Yayasan Pakuan Pajajaran untuk merealisasikan peta jalan digitalisasi tersebut.

Sejalan dengan optimisme tersebut, Yuhendra Efendi berharap agar kerja sama dengan Yayasan Pakuan Pajajaran dapat menyempurnakan website yang sudah berjalan saat ini menjadi platform yang memberikan kemudahan maksimal bagi anggota.

Fauzan Bahtiar menyambut era baru ini, menekankan bahwa pekerja adalah aset berharga yang harus beradaptasi dengan tuntutan digitalisasi. Semangat perubahan juga digaungkan oleh Edi Suherdi, yang menginginkan kemajuan signifikan dan manfaat nyata dari aplikator untuk kemajuan organisasi di era digitalisasi ini.

Aspek sejarah dan kesinambungan juga menjadi perhatian. Ono Kartono melihat teknologi sebagai jembatan yang menghubungkan era masa lalu dan masa kini, memastikan jejak rekam organisasi tersimpan dengan baik untuk masa depan.

Sementara itu, Hermawan mengidentifikasi pendanaan sebagai tantangan klasik dalam propaganda organisasi, namun optimis bahwa digitalisasi dapat menjadi solusi bagi organisasi nirlaba untuk meningkatkan kesejahteraan anggota secara efisien.

Sukir menegaskan bahwa penguatan administrasi dan teknologi informasi adalah bagian dari enam agenda penguatan organisasi yang telah direncanakan. Kebutuhan utama secara administratif adalah kemudahan pendataan keanggotaan. “Website adalah harapan kami menjadi data base keanggotaan, laporan keuangan, dan dokumentasi,” ujarnya.

Terakhir, Ira Laila menyoroti aspek pertumbuhan ekonomi, yaitu investasi dan konsumsi, dan menekankan pentingnya realisasi teknis dari inisiatif lokal (organisasi) ini untuk pengembangan di masa mendatang.

Rapat ini menandai komitmen kuat PD FSP KEP SPSI Jawa Barat untuk bertransformasi, memastikan organisasi tetap relevan, efisien, dan memberikan nilai tambah maksimal bagi seluruh anggotanya di era industri 4.0.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *